Jumat, 13 Januari 2012

Pembelajaran Matematika Realistik

“JURNAL, Pendidikan Dasar “  Nomor: 8 - Oktober 2007
Pembelajaran Matematika Realistik dalam
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Logis,
Kreatif, dan Kritis, Serta Komunikasi Matematik
Siswa Sekolah Dasar
Husen Windayana
Abstrak
  Kurikulum matematika yang diimplementasikan ke dalam kegiatan belajar mengajar matematika menuntut siswa
memiliki sejumlah kemampuan atau kompetensi matematik. Kemampuan tersebut diantaranya adalah berpikir logis,
berpikir kreatif, berpikir kritis, dan komunikasi secara matematik. Pendekatan belajar mengajar matematika konvensional
yang menekankan kepada penyajian langsung dan hanya menekankan latihan kurang memberi kesempatan siswa
membentuk kemampuan-kemampuan di atas. Melainkan harus sebuah pendekatan belajar mengajar yang memberi
keleluasaan siswa mengkonstruk sendiri pengetahuan melalui interaksinya dengan lingkungan. Salah satu pendekatan
yang mampu memberi ruang kepada siswa mengkonstruk pengetahuan sendiri adalah pembelajaran matematika
realistik. Atas dasar keadaan tersebut kajian penelitian ini adalah bagaimana pembelajaran matematika realistik dapat
meningkatkan kemampuan berpikir logis, berpikir kreatif, berpikir kritis, dan komunikasi matematik siswa sekolah
dasar.
  Kajian ini dilakukan melalui sebuah penelitian kualitatif menggunakan model dari Kemmis dan Mc. Taggart dengan
empat tahap kegiatan yaitu, perencanaan, tindakan, observasi, dan refeksi. Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar
Laboratorium UPI Kampus Cibiru dengan subjek penelitian siswa kelas tiga. Alat pengumpul data terdiri dari instrumen
observasi model perencanaan pembelajaran dan model pengelolaan belajar, instrumen observasi kemampuan
matematik, instrumen wawancara, catatan lapangan, soal tes, serta LKS.
Kata Kunci: matematika realistik, berpikir logis, kritis, kreatif, dan komunikasi matematik
PENDAHULUAN
Pembelajaran matematika di sekolah merupakan
salah satu komponen pendidikan yang tidak hanya
mengembangkan kemampuan dan keterampilan
menerapkan matematika, melainkan mengembangkan
kemampuan memecahkan masalah (Soedjadi, 1994:44).
Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan
pemecahan masalah adalah melalui pembelajaran yang
tidak hanya memposisikan siswa sebagai pendengar,
pemerhati, dan pencatat apa yang diterangkan, diragakan,
dan ditulis guru, tetapi pembelajaran yang melibatkan siswa
sebagai individu aktif dalam mengkonstruk pengetahuan
melalui proses belajar interaktif. Siswa sebagai aktor yang
menyusun sendiri pengetahuan melalui pemahaman,
pengalaman, dan kemampuan yang dimilikinya.
  Pendekatan belajar-mengajar yang dapat membantu
siswa belajar secara aktif baik fsik maupun mental
diantaranya adalah matematika realistik. Matematika
realistik adalah pendekatan belajar-mengajar yang
memberi kesempatan siswa menemukan kembali konsep-
konsep matematika melalui bimbingan (guide reinvenstion).
Guru membimbing siswa untuk menemukan konsep
matematik melalui proses matematisasi  horizontal dan
vertical melalui contextual problem. Siswa merepresentasi
gagasan dan ide ke dalam model-model sehingga
paham konsep matematik. Belajar matematika dengan
pendekatan matematika realistik memungkinkan siswa
mengembangkan berpikir logis, kreatif dan kritis, serta
mengembangkan kemampuan komunikasi matematik.
RUMUSAN MASALAH
Atas dasar uraian di atas permasalahan yang dikemukakan
dalam penelitian ini adalah “bagaimana meningkatkan
kemampuan berpikir logis, kreatif, kritis, dan komunikasi
matematik, siswa sekolah dasar melalui pembelajaran
matematika realistik ?”. Masalah tersebut dirinci ke dalam
pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut:
1.  Bagaimana merancang persiapan dan mengelola
pembelajaran matematika sesuai dengan prinsip-prinsip
pembelajaran matematika realistik ?    
2.  Bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir logis melalui
pembelajaran matematika realistik ?
3.  Bagaimana meningkatkan berpikir kreatif melalui
pembelajaran matematika realistik ?
4.  Bagaimana meningkatkan berpikir kitis melalui pembelajaran
matematika realistik ?
5.  Bagaimana meningkatkan kemampuan komunikasi
matematik siswa sekolah dasar melalui pembelajaran
matematika realistik ?
LANDASAN TEORI
Matematika realistik merupakan pendekatan belajar-
mengajar matematika yang memanfaatkan pengetahuan
siswa sebagai jembatan untuk memahami konsep-konsep
matematika. Siswa tidak belajar konsep matematika
dengan cara langsung dari guru atau orang lain melalui
penjelasan, tetapi siswa membangun sendiri pemahaman
konsep matematika melalui sesuatu yang diketahui “JURNAL, Pendidikan Dasar “  Nomor: 8 - Oktober 2007
oleh siswa itu sendiri. Matematika realistik memberi
kesempatan siswa mengkonstruk sendiri konsep-konsep
matematika melalui sesuatu yang diketahuinya. Dari
sesuatu yang diketahui, siswa melakukan, berbuat,
mengerjakan, menginterpretasikan, dan semacamnya,
yang akhirnya siswa memahami konsep matematika.
Menurut Freudenthal (1973), matematika sebagai
aktivitas manusia atau mathematics as a human activity.
Pandangan ini mengharuskan matematika dipelajari
secara aktif.
  Gagasan kunci dari matematika realistik adalah
memberi kesempatan kepada siswa menemukan kembali
konsep-konsep matematika melalui bimbingan guru
(guide reinvention). Melalui pengetahuan informal siswa,
guru membimbing siswa sampai menemukan konsep-
konsep matematika sebagai pengetahuan formal. Melalui
memecahkan  contextual problem yang dipahami, siswa
menggunakan pengetahuan informal untuk menemukan
konsep-konsep matematik. Proses seperti ini mendorong
siswa belajar secara interaktif, karena guru hanya
berperan membangun ide dasar siswa.
  Belajar matematika menurut pendekatan matematika
realistik berarti bekerja secara matematik melalui
memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan
sehari-hari (contextual problem). Keberadaan contextual
problem dalam matematika realistik sesuatu yang sangat
penting. Melalui  contextual problem siswa membangun
konsep matematika dari cara informal ke formal.
  Prinsip-prinsip pembelajaran dengan pendekatan
matematika realistik menurut Gravemeijer (1994) adalah:
1) reinvention, 2) fenomena didaktik, dan 3) model yang
dikembangkan searah dengan falsafah constructivism.      
  Reinvention adalah prinsip belajar matematika
realistik dimana siswa menemukan kembali konsep-konsep
matematika melalui bimbingan guru. Siswa memecahkan
masalah konteks (contextual problem) dengan cara-cara
informal melalui pembuatan model-model kemudian
dibimbing oleh guru sampai siswa menemukan konsep-
konsep matematika formal. Model adalah jembatan
yang menghubungkan siswa dari dunia real (contextual
problem) ke konsep-konsep yang akan ditemukannya.
Prinsip  reinvention menuntut siswa  doing mathematics
sehingga siswa dapat mempelajari matematika secara
aktif dan bermakna.
  Fenomena didaktik adalah adanya pemanfaatan
konteks sebagai media belajar siswa. Melalui konteks
yang dikenal siswa mengembangkan model-model, mulai
dari model level rendah atau sederhana (model of) sampai
model level tinggi (model for), yang akhirnya siswa sampai
menemukan konsep formal matematik. Pemilihan konteks
sebagai media awal siswa dalam belajar harus benar-
benar nyata atau dipahami siswa. Guru harus memeriksa
soal-soal kontekstual yang akan dijadikan media belajar
siswa, karena hal ini terkait dengan 1) berbagai prosedur
informal yang mungkin akan dibuat siswa dan 2) sesuai
tidaknya dengan matematisasi vertical.
  Model yang dikembangkan searah dengan
constructivism maksudnya adalah, ketika guru
memberikan contextual problem yang kemudian
diselesaikan siswa dengan menggunakan cara-cara
informal melalui pembuatan model-model sendiri oleh
siswa sampai ke menghasilkan prosedur formal melalui
bimbingan guru sejalan dengan falsafah constructivism.
Pendekatan realistik matematik memberi kesempatan
siswa mengkonstruk sendiri pengetahuan formal
melalui cara atau prosedur informal. Gravemeijer (1994)
mengemukakan skema pembentukan model dalam
matematika realistik sebagi berikut,
  Pembelajaran matematika dengan pendekatan
realistik memiliki karakteristik berikut:
1. Menggunakan masalah kontekstual (contextual
problem)
Masalah kontekstual sebagai pembuka belajar siswa dan
harus diselesaikan siswa dengan cara atau prosedur
informal. Syarat dalam memilih masalah kontekstual
adalah harus nyata atau dipahami siswa. Melalui masalah
kontekstual ini siswa akan membuat model-model, mulai
dari model sederhana (model of) sampai model tingkat
tinggi atau model for.
2. Menggunakan model-model
Ketika siswa menghadapi permasalahan kontekstual siswa
akan menggunakan strategi-strategi pemecahan untuk
merepresentasikan permasalahan kontekstual menjadi
permasalahan matematik, representasi inilah yang disebut
sebagai model. Bentuk model bisa berupa lambing-
lambang matematik, skema, grafk, diagram, manipulasi
aljabar, dan sebagainya. Model digunakan siswa sebagai
jembatan untuk mengantarkan mereka dari matematika
informal (matematisasi horizontal) ke matematika formal
(matematisasi vertical). Dalam membuat model siswa mulai
dengan membuat model dari permasalahan kontekstual
yang disebut dengan model of. Selanjutnya melalui proses
refeksi dan generalisasi akan diperoleh model yang lebih
umum, ini yang disebut dengan model for.
3. Menggunakan produksi dan konstruksi model
Produksi dan konstruksi model dilakukan oleh siswa sendiri
secara bebas dan melalui bimbingan guru siswa mampu
merefeksi bagian-bagian penting dalam belajar yang
akhirnya mampu mengkonstruksi model formal. Strategi-
strategi informal siswa yang berupa prosedur pemecahan
masalah kontekstual sebagai sumber inspirasi dalam
mengkonstruk pengetahuan matematika formal.
4.  Interaktif
Interaksi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan
guru merupakan bagian penting dalam matematika realistik
Bentuk interaksi yang akan terjadi dalam pembelajaran
diantranya adalah negosiasi, penjelasan, pembenaran,
setuju, tidak setuju, pertanyaan atau refeksi. Bentuk
interaksi ini digunakan siswa untuk memperbaiki atau
memperbaharui model-model yang dikonstruksi. Sedangkan
oleh guru digunakan untuk menuntun siswa sampai kepada
konsep matematika formal yang diperkenalkan.
5.   Intertwinment
Intertwinment adalah keterkaitan antara konsep-
konsep matematika, hubungan antara satu konsep dengan
konsep lainnya, atau keterkaitan antara matematika
dengan mata pelajaran lain. Misalnya keterkaitan antara
konsep penjumlahan dengan pengurangan, penjumlahan
dengan perkalian, atau perkalian dengan pembagian.
Hubungan pola bilangan dengan bentuk umumnya dan
lain sebagainya. Matematika realistik menyadarkan siswa
tentang keterkaitan dan hubungan satu dengan yang
lainnya. 
  Treffers (1991) mengemukakan lima prinsip
pasangan belajar-mengajar matematika realistik yaitu:
konstruksi dan kongkrit, level dan model, refeksi dan
tugas khusus, konteks sosial dan interaksi, struktur
dan keterkaitan. Kelima prinsip tersebut digambarkan
ke dalam matrik berikut.
Pengetahuan formal
Model for
Model of
Situasi
gambar 1“JURNAL, Pendidikan Dasar “  Nomor: 8 - Oktober 2007
Belajar Mengajar
Konstruksi
Ide atau konsep-konsep matematika dikonstruksi siswa melalui
matematisasi
Kongkret
Agar siswa dapat melakukan konstruksi, guru memilihkan
masalah kontekstual yang kongkret/realistic yang berhubungan
dengan konsep-konsep matematika yang akan diperkenalkan
Level
Karena siswa mempunyai level kemampuan yang berbeda
maka kualitas matematisasi yang dilakukan siswa juga akan
berbeda
Model
Dari berbagai model yang dibuat siswa guru memilihkan model
yang paling efsien
Refeksi
Siswa melakukan refeksi melalui membandingkan model yang
dibuat sendiri dengan model yang dibuat teman atau hasil
diskusi, dll.
Tugas Khusus
Guru memberi tugas khusus, misalnya dimaksudkan untuk
menimbulkan konplik dalam rangka memperkaya model
Konteks Sosial
Siswa belajar dalam suasana kebersamaan, saling berbagi
dan saling mengadopsi model yang terbaik
Interaksi
Guru mengatur agar terjadi interaksi antar siswa
Struktur
Siswa menstrukturisasi konsep baru ke dalam pikirannya
Keterkaitan
Guru berusaha mengaitkan konsep baru dengan konsep-
konsep lain yang sudah dipelajari sebelumnya
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan
kelas dengan model siklus dari Kemmis dan Mc Taggart
yang terdiri dari komponen: perencanaan, tindakan,
observasi, dan refeksi (Hopkins, 1993). Instrumen yang
dikembangkan adalah: perencanaan pembelajaran,
bahan ajar, alat peraga, instrumen observasi, instrumen
wawancara, catatan lapangan, dan soal tes. Subyek
penelitian adalah siswa kelas III Sekolah Dasar
Laboratorium UPI Kampus Cibiru. Pelaksanaan tindakan
dilakukan sebanyak 17 kali yang termuat ke dalam 4
siklus.
  Pengolahan dan analisis data dalam penelitian
ini menggunakan aturan pengolahan dan analisis data
penelitian kualitatif. Data yang terkumpul terlebih dahulu
dikelompokkan berdasarkan jenis dan sifatnya, kemudian
diolah dan dianalisis berdasarkan kebutuhannya. Untuk
mencek keabsahan data dilakukan triangulasi, konfrmasi
kepada pihak-pihak terkait, untuk memperoleh keterangan
atau informasi tentang keabsahan data yang dimaksud.
Kriteria kaberhasilan ditentukan dengan melihat hasil
kemajuan atau peningkatan dari setiap aspek yang
menjadi focus penelitian. Membandingkan peningkatan
implementasi model perencanaan dan model pengelolaan
pembelajaran setiap tindakan atau siklus, begitu pula
untuk aspek berpikir logis, kritis, kreatif, dan komunikasi
matematik
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian dapat dilihat pada Tabel 1 yang
menggambarkan keadaan setiap tindakan dalam setiap
siklus
KESIMPULAN DAN SARAN
1.   Kesimpulan
Dari apa yang telah dipaparkan di atas maka dapat ditarik
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
a.  Model perencanaan pembelajaran yang dapat
mengembangkan pembelajaran matematika realistik
adalah persiapan mengajar yang dapat mengakomodasi
prinsip-prinsip belajar matematika realistik seperti bahan
ajar disusun secara problem konteks dan langkah-langkah
pembelajaran menggambarkan belajar interaktif.
b.  Model pengelolaan yang dapat memfasilitasi prinsip-prinsip
belajar mengajar matematika realistik adalah belajar dengan
menggunakan pengelompkan siswa, memanfaatkan LKS
sebagai media untuk menyampaikan problem konteks,
siswa diberi waktu untuk memecahkan masalah,  sharing
ide dari setiap kelompok, pembimbingan atau meminta
persertujuan untuk menemukan konsep, memberi problem
konteks baru bila mungkin, pembimbingan, penyimpulan,
dan tes formatif.
c.  Pendekatan matematika realistik dapat meningkatkan
kemampuan berpikir logis siswa hal tersebut dapat dilihat
dari siswa teramati cukup baik dalam menyelesaikan
permasalahan. Walau penyelesaian problem konteks
yang dilakukan kurang memberi gambaran representasi
model bertahap dari sederhana meningkat ke representasi
model formal. Selain itu kemampuan menerjemahkan
konteks ke dalam bentuk representasi model matematik,
kelogisan model yang dibuat dengan problem konteks, dan
kemampuan memberi alasan secara logis ketika ditanya
guru teramati cukup baik serta siswa mampu dengan baik
menunjukkan kemampuan berpikir induktif dan deduktif,
misalnya membuat kesimpulan dari fakta-fakta yang
diketahui.
d.  Pendekatan matematika realisrtik dapat meningkatkan
kemampuan komunikasi matematik siswa, diantaranya
siswa mampu membuat representasi problem konteks ke
dalam simbol-simbol matematik tanpa harus dibantu guru.
Siswa mampu menyatakan situasi dan relasi matematik
secara tulisan dan lisan tentang nilai tempat bilangan,
membaca simbol matematik lambang bilangan. Beberapa
siswa mampu berargumentasi secara matematik tentang
menjumlah bersusun ke bawah dua bilangan ratusan ribu
menurut nilai tempatnya, siswa mampu berargumentasi
secara lisan terhadap penyelesaian problem konteks atas
pertanyaan mengapa. Terdapat 12 dari 23 siswa mampu
menjelaskan ide tertulis dengan benar tentang penyelesaian
problem konteks secara akurat.
e.  Pendekatan matematika realistik dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa dilihat dari indikator
menganalisis permasalahan, memecahkan permasalahan,
dan membandingkan. Misalnya siswa mampu menganalisis
dan memecahkan permasalahan. Siswa mampu
menunjukkan kemampuannya dalam menganalisis
permasalahan, memecahkan permasalahan, dan
membandingkan.
2.   Saran
Untuk memperoleh kualitas proses dan hasil belajar
matematika yang sesuai tuntutan kompetensi baik yang
tertuang dalam kurikulum standar maupun tuntutan
situasi dan perkembangan kehidupan masa kini maka
para praktisi pendidikan, khususnya di tingkat sekolah
dasar seyogyanya pendekatan matematika realistik dipilih
sebagai salah satu pendekatan pembelajaran dalam “JURNAL, Pendidikan Dasar “  Nomor: 8 - Oktober 2007
Tabel 1
Hasil Penelitian
Pelaksanaan Deskripsi Hasil
Siklus 1
Memperbaiki model
perencanaan
pembelajaran,
memperbaiki dan
meningkatkan
model pengelolaan
belajar, dan
memperbaiki serta
meningkatkan
kemampuan
berpikir logis.
Model perencanaan pembelajaran yang dirasakan cocok untuk mengembangkan pembelajaran matematika realistik
adalah persiapan mengajar yang dapat mengakomodasi prinsip-prinsip belajar matematika realistik seperti bahan ajar
disusun secara problem konteks, langkah-langkah pembelajaran menggambarkan belajar interaktif.
Model pengelolaan belajar menggunakan pengelompkan siswa, memanfaatkan LKS sebagai media untuk menyampaikan
problem konteks, siswa diberi waktu untuk memecahkan masalah, sharing ide dari setiap kelompok, pembimbingan
atau meminta persertujuan untuk menemukan konsep, memberi problem konteks baru bila mungkin, pembimbingan,
penyimpulan, dan tes formatif.
Kemampuan berpikir logis siswa teramati cukup baik, walau beberapa kelompok masih perlu bimbingan. Setelah dibantu
beberapa kelompok mampu menyelesaikan permasalahan. Hanya penyelesaian problem konteks yang dilakukan siswa
tidak memberi gambaran representasi model bertahap dari sederhana meningkat ke representasi model formal, semua
siswa menyelesaikannya langsung ke bentuk formal. Hal ini sebagai akibat dari kebiasaan siswa menerima penjelasan
langsung dari guru ketika belajar konsep-konsep awal. Guru tidak biasa memberi kesempatan siswa mengeksplorasi
untuk menemukan ide atau gagasan melalui bentuk-bentuk model.
Kemampuan menerjemahkan konteks ke dalam bentuk representasi model matematik, kelogisan model yang dibuat
dengan problem konteks, dan kemampuan memberi alasan secara logis ketika ditanya guru teramati cukup baik,
walaupun untuk konsep/materi berbeda hal ini tidak demikian. Di samping itu, siswa mampu dengan baik menunjukkan
kemampuan berpikir induktif dan deduktif, misalnya membuat kesimpulan dari fakta-fakta yang diketahui.
Rata-rata tes formatif tindakan 1 sampai 4 masing-masing sebagai berikut 7,02; 7,29; 5,59; dan 5,93. Keadaan ini
dikarenakan topik yang berbeda antara satu bahasan dengan bahasan yang lain dan tingkat kesukaran dari setiap soal tes
tersebut berbeda, misalnya tes formatif ke tiga dan ke empat. Sedangkan nilai rata-rata tes sub sumatif yang dilaksanakan
pada kegiatan akhir tindakan keempat siklus ini adalah 7,45.
Siklus 2
Memperbaiki model
perencanaan
pembelajaran,
memperbaiki dan
meningkatkan
model pengelolaan
belajar, dan
memperbaiki serta
meningkatkan
kemampuan
komunikasi
matematik.
Perencanaan pembelajaran siklus 2 seperti pada siklus 1 yaitu model perencanaan pembelajaran yang dapat membimbing
guru menerapkan pembelajaran matematika realistik.
Model pengelolaan belajar siklus ini seperti pada siklus 1 dengan merubah cara melaporkan hasil diskusi kelompok dari
setiap kelompok menjadi hanya dua kelompok, yaitu kelompok yang menjawab relatif benar dan satu kelompok sesuai
pilihan guru. Pengelompokan siswa pada siklus ini hanya 3 orang per kelompoknya.
Kemampuan komunikasi matematik di awal tindakan beberapa siswa mampu membuat representasi problem konteks
ke dalam simbol-simbol matematik tanpa harus dibantu guru. Tetapi menyangkut problem konteks yang mengandung
bilangan ratusan ribu siswa perlu dibimbing. Model simbol yang dibuat siswa umumnya belum menggambarkan akurasi
yang baik. Beberapa siswa mampu menyatakan situasi dan relasi matematik secara tulisan dan lisan tentang nilai tempat
bilangan, membaca simbol matematik lambang bilangan, namun masih ditemukan siswa yang perlu bimbingan dalam
membaca bilangan ribuan. Beberapa siswa mampu berargumentasi secara matematik tentang menjumlah bersusun ke
bawah dua bilangan ratusan ribu menurut nilai tempatnya.
Tindakan berikutnya beberapa siswa mampu berargumentasi secara lisan terhadap penyelesaian problem konteks atas
pertanyaan mengapa, namun beberapa siswa lain belum. Terdapat 12 dari 23 siswa mampu menjelaskan ide tertulis
dengan benar tentang penyelesaian problem konteks secara akurat dan membaca lambang bilangan ratusan ribu dengan
lancar.
Rata-rata nilai tes formatif tindakan 1 sampai 4 siklus dua ini masing-masing sebagai berikut 9,1; 6,25; 6,10; dan 7,93.
Siklus 3
Memperbaiki dan
meningkatkan
kemampuan
berpikir kreatif.
Kemampuan berpikir kreatif siswa dalam siklus ini teramati sebagian besar mampu membuat model, notasi matematik
tentang operasi penjumlahan dan perkalian dari problem konteks, namun sebagian masih dibimbing. Model yang
dihasilkan selalu dalam bentuk formal berupa operasi penjumlahan dan perkalian dan model yang dihasilkan bukan
representasi model asli hasil pemikiran siswa yang memiliki sifat lentur tetapi merupakan model baku yang umum.
Siswa memperlihatkan aktivitas yang sibuk ketika memecahkan problem konteks dan umumnya mampu menjawab
problem konteks dengan benar.
Kemampuan konseptual siswa dalam siklus ini teramati mengalami peningkatan, yang mulanya dari dibimbing sampai
akhirnya lancar mengemukakan sendri alasan ketika diajukan pertanyaan mengapa. Beberapa siswa yang tergolong
kurang masih belum menunjukkan peningkatan berarti.
Deskripsi di atas diperkuat oleh hasil tes yang dilaksanakan setiap akhir kegiatan belajar yang hasilnya cenderung
meningkat dilihat dari rata-ratanya. Rata-rata tes tindakan 1, 2, 3, dan 4 masing-masing adalah 5,98 ; 8,68 ; 7,99 ; dan 8,1.
Siklus 4
Memperbaiki dan
meningkatkan
kemampuan beripir
kritis.
Kemampuan siswa dalam berpikir kritis dilihat dari indikator menganalisis permasalahan, memecahkan permasalahan,
dan membandingkan pada awal tindakan siklus 4 ini teramati sangat rendah, misalnya ketika diberikan problem konteks
tentang sifat komutatif dan asosiatif hanya 3 dari 24 siswa yang mampu menganalisis dan memecahkan permasalahan.
Tindakan berikutnya beberapa siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam menganalisis permasalahan,
memecahkan permasalahan, dan membandingkan. Salah seorang siswa terpandai di kelas mampu menjelaskan bahwa
ada susunan berbeda dari perkalian 4 x 5 yaitu 5 x 4 (sebagai sifat komutatif) yang tidak ditemukan siswa lain. Banyak
siswa mulai memperlihatkan kemampuan menganalisis permasalahan dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan
pengubahan bentuk perkalian menjadi pembagian dari soal open ended, misalnya 3 x… = …. ,menjadi …. : 3 = …..
Serta mampu membandingkan hasil perkalian  4 x 7 dengan 7 x 4 atau (3 x 4) x 5 dengan 3 x (4 x 5) sebagai pasangan
perkalian yang mempunyai hasil sama. Namun kemampuan menganalisis, memecahkan, dan membandingkan berkaitan
dengan masalah bilangan genap dan ganjil berdasarkan habis dan tidak habis dibagi dua, kembali mengalami kesulitan.
Umumnya siswa sulit memahami problem konteks berkaitan konsep itu. Begitu pula halnya dalam menganalisis dan
memecahkan permasalahan soal problem solving memperlihatkan kemampuan yang masih belum maksimal, hanya
beberapa siswa pandai saja yang mampu menjawab soal-soal tersebut. Nilai rata-rata tes formatif tindakan 1 sampai 5
masing-masing 5,8; 7,4; 6,8; 7,4; 6,7. Keadaan ini menggambarkan kemampuan yang sedang untuk aspek kemampuan
berpikir kritis.
mengajar. Para stake holder terutama pemerintah dalam
hal ini Dinas Pendidikan harus proaktif menyebarluaskan
penggunaan pendekatan pembelajaran matematika
realistik, karena dari hasil penelitian diperoleh temuan
bahwa pendekatan matematika realistik mampu
meningkatkan berbagai kemampuan penting pada diri
siswa yang bermanfaat untuk bekal dalam kehidupan
siswa sekarang dan masa yang akan datang, terutama
mampu meningkatkan kemampuan berpikir logis, kritis,
dan kreatif serta meningkatkan kemampuan komunikasi
matematik siswa sekolah dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Gravemeijer , K. (1994).  Developing Realistic Mathematics
Education. Utrecht:  Freu-Denthal Institut.
Trefers, A. (1991). Didactical Background of a Mathematics
Program for Primary Education dalam L. Streefand (ed.).
Realistic Mathematics Education in Primary School.
Utrecht Institut.
Zulkardi (2001). Applying Realistic Mathematics Education (RME)
in Teaching Geometry in Indonesia Primary Schools. Den
Haag: University of Twente

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar